Tentang Pernikahan

Ini adalah pernikahan dari sudut pandang seorang perempuan berusia 23 tahun yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang besar dan rumit ini. Jadi, tidak perlu dianggap serius.

Ada satu fenomena yang sering kujumpai akhir-akhir ini. Aku makin sering mendapat kabar bahwa teman seangkatan atau teman dari teman, atau yang aku tidak kenal sama sekali tapi seumuran denganku (bahkan lebih muda), menikah. Kemudian, obrolan-obrolan baik santai maupun serius di antara teman-temanku banyak membahas tentang pernikahan, baik itu menggosipkan seseorang yang akan atau sudah menikah, atau saling meledek karena di antara kami banyak yang masih lajang, dan saling dorong-mendorong supaya segera menikah. Di pertemuan-pertemuan keluarga dan teman-teman orang tuaku, aku dan orangtuaku sudah digoda-goda dengan bercandaan seputar ‘kapan mantu‘.

Ini bukan hal buruk sih, karena aku bisa ikuti dan tanggapi itu semua dengan santai. Cuma yang membuatku sedikit muak adalah pembahasan tentang pernikahan akhir-akhir ini menjadi sangat overrated di kalangan orang-orang seusiaku.  Rasanya semua orang seakan-akan ingin menikah. Rasanya seakan-akan menikah adalah hal paling penting yang harus dilakukan semua manusia yang lahir ke dunia, bahkan satu-satunya hal yang penting. Seakan-akan betapa kasihan kamu, tidak beruntungnya kamu, dan ruginya kamu apabila tidak menikah. Meski kamu sudah banyak membantu orang lain yang kesulitan, meski pencapaian akademis maupun kariermu sudah berlimpah-limpah dan kamu sudah banyak berkontribusi bagi masyarakat dan negaramu, meski kamu bahagia dengan kehidupanmu, meski kamu bisa bekerja sesuai passion, bisa membahagiakan orang tua, betapa kasihan kamu bila tidak menikah.

Ah, menikah bahkan seolah menjadi mandat dalam hidup manusia. Ketika seseorang sudah mencapai usia tertentu atau lulus kuliah dengan gelar sarjana, orang akan mulai bertanya kapan kita menikah. Apalagi ketika sudah bekerja, sudah punya cukup penghasilan untuk menghidupi diri sendiri. Orang-orang akan langsung secara beruntun membombardir pertanyaan maut itu, seolah-olah menikah adalah tahapan hidup yang wajib dipenuhi, jadi apabila kamu tidak menikah, kamu tidak benar-benar hidup sebagai manusia.

Aku tidak sepakat bahwa pernikahan adalah mandatory atau wajib bagi manusia. Mau menikah kapan, bahkan mau menikah atau tidak itu pilihan pribadi kita, yang harusnya didasarkan benar-benar atas pertimbangan, perasaan, dan kesiapan pribadi. Orang-orang di sekitar kita semestinya tak menghakimi pilihan-pilihan ini atau menasehati secara berlebihan.

Bagiku, menikah itu artinya menjalani hidup bersama seseorang yang sudah kita pilih, untuk selamanya, di bawah satu atap, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, selamanya. Kita memilih seseorang untuk kita cintai, untuk kita jaga, kita lindungi, kita bahagiakan, dan demikian juga orang itu kepada kita.

Bersama dengannya kita mengatur kehidupan sehari-hari, mengambil keputusan-keputusan hidup, menghadapi tantangan, dan menggapai cita-cita bersama. Jika nantinya memiliki anak, membesarkan dan mendidik anak itu hingga dewasa dan menjadi orang yang bijaksana adalah prioritas utama.

Makanya, pernikahan itu team work. Tapi, ini team work sehidup semati. Jika salah satu dari anggota tim itu tidak benar ‘kerja’nya atau egois, malas-malasan, tidak serius, ya pasti hidup dua orang dalam pernikahan itu akan kacau. Ketika menikah, setiap keputusan yang kita ambil akan memengaruhi kehidupan pasangan kita juga. Jadi, dua orang yang diikat pernikahan sama sekali tidak boleh kekanak-kanakan dan sama sekali tidak boleh egois. Karena itu, bagiku, selain ketulusan dan cinta terhadap pasangan, kematangan mental menjadi syarat utama dalam menikah.

Maka dari itu pula, sekedar ‘sudah umurnya’, ‘sudah waktunya’, ‘sudah ingin’, ‘sudah siap’, ‘sudah ada calonnya’, ‘sudah ada yang mau’, tidak cukup menjadi syarat menikah. Apalagi alasan menikah adalah karena dorongan lingkungan: karena teman-teman seumuran sudah banyak menikah, karena orang tua/keluarga sudah nagih, karena lihat si ini menikah kok kelihatannya bahagia, jadi pengen. Artinya, keinginan menikah tidak sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi, tapi karena orang lain. Apalagi sampai nyari ke mana-mana, coba deketin sana, deketin sini, dan akhirnya memutuskan menikah dengan orang yang tidak benar-benar disukai atau dicintai. Itu salah, menurutku.

Kesiapan finansial memang penting, tapi ada hal yang jauh lebih penting, yakni kesiapan mental dan niat yang sudah benar. Kalau menikah hanya untuk menghindari penyaluran nafsu yang salah misalnya, atau hanya untuk segera memiliki keturunan, atau hanya ingin mengikuti trend teman-teman seusia, menurutku itu bukan niat yang baik. Alasannya, menikah itu bukan fokus pada kenyamanan dan keamanan diri sendiri, atau pada hubungan antara diri sendiri dan orang-orang di kehidupan sosial kita, tapi fokus pada hubungan antara dua orang yang menikah tersebut. Kalau yang dipikir adalah apa kata orang lain atau apa kata buku ini atau apa kata artikel itu, sebaiknya tanyakan lagi pada diri sendiri, kamu menikahi siapa? Menikahi orang-orang itu kah? Menikahi artikel itu kah atau buku itu kah?

Esensi pernikahan sebagai sarana menghindari dosa atau ‘kecelakaan’ menurutku juga merupakan pemahaman yang dangkal. Karena jika demikian, berarti pernikahan itu sendiri dipahami sesuatu yang serba seksual atau beresensi sebagai sarana memuaskan kebutuhan seksual semata. Singkatnya, pernikahan adalah solusi seks halal.

Pernikahan itu sangat suci, karena dua otak, dua jiwa, dan dua hati yang berbeda menjadi satu. Bayangkan, kadang mengatur hidup ketika masih lajang saja sudah ribet dan kewalahan, apalagi ketika hidup dengan orang lain. Karena itu, pernikahan butuh kematangan mental yang luar biasa. Kesiapan finansial juga percuma saja apabila tidak dibarengi dengan kedewasaan dalam menggunakan uang untuk kehidupan rumah tangga. Sekali lagi, ego harus ditekan habis-habisan dan harus selalu kompromi. Banyak sekali yang bercerai karena alasan ekonomi, lho.

Ini sudut pandangku. Aku tidak peduli dibilang liberal, egois, utopis. Aku cuma tidak suka dengan trend cepat-cepat nikah ini. Karena, menikah itu life changing decision, both for ourselves and our future partners. Once you screw up, it is not only your life that will be doomed, your partner’s will be as well. Menikah bukan solusi, tapi justru sumber masalah-masalah baru.

Bagiku, pertanyaan paling sederhana yang bisa ajukan untuk menanyakan kesiapan kita adalah ‘siapkah aku hidup sengsara bersamanya?’. Karena kalau hidup bahagia bersama, siapa yang tidak ingin? Hidup sengsara, belum tentu semuanya mau. Masalahnya, menikah itu pasti sengsara, hehe. Mungkin tidak selalu, tapi malah lebih utopis kalau membayangkan pernikahan itu sebagai sesuatu yang selalu membahagiakan, dan bagiku sih lebih baik realistis daripada utopis.

Ayo, pikir-pikir lagi sebelum memutuskan untuk menikah.

 

 

 

 

 

Author: Aulia Nabila

Wanderer, Questioner, Overthinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s