Groningen, My Second Hometown

Apa kabar?

Kabarku sendiri baik, walau sedang sedikit pilek ketika sedang menulis post ini. Tak apa, pilek bukan sesuatu yang tak lazim bagiku. Orang-orang yang mengenalku akan tahu soal ini.

Anyway, bagi yang pernah menemukan blog ini sebelumnya, kalian akan tahu bahwa sudah berbulan-bulan lamanya blog ini terabaikan. Akan kuungkapkan sekarang apa alasannya.

Alasan pertama, karena aku kurang bisa mengatur waktu dan konsisten 😦 Cukup sulit bagiku untuk menyediakan waktu secara rutin untuk bisa mengurus blog ini dengan baik. Aku bukan tipe orang yang baik dalam multi-tasking, sehingga aku cenderung menghindari untuk memiliki banyak pekerjaan. Dengan kata lain, aku lebih memilih bermalas-malasan, bersantai, atau jalan-jalan ketika selesai dengan satu kesibukan yang melelahkan, daripada mengerjakan pekerjaan lain 😀 Ya, bagiku blogging bukan sekadar hobi atau sarana refreshing, karena ia membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Alasan kedua, mungkin sudah sedikit kubocorkan di alasan yang pertama: aku sekarang memiliki kesibukan baru. Apakah itu?

Kira-kira setahun yang lalu, aku mendapat sebuah berkah yang luar biasa. Aku mendapat kesempatan untuk kuliah master di Belanda, berkat beasiswa dari Stuned. Alhasil, di sinilah aku sekarang. Aku tinggal di sebuah kota di ujung utara Belanda, yang bernama Groningen dan sedang belajar di University of Groningen. Selama setahun belakangan ini, aku disibukkan dengan kegiatan kuliahku. Aku harus membaca bejibun reading materials untuk mempersiapkan setiap kuliah, mengerjakan tugas-tugas, mempersiapkan ujian–ujian akhir blok, dan hingga saat ini, harus menyelesaikan master thesis-ku sebagai tahapan terakhir untuk bisa lulus. Aku juga mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu senior editor di blog hukum internasional yang dirintis oleh mahasiswa-mahasiswa kampus ini.

Mungkin ini terdengar seperti hal yang sangat biasa dikerjakan seorang mahasiswa, namun, ini merupakan rutinitas yang cukup melelahkan, berat, sekaligus pengalaman hidup yang luar biasa, bagiku yang sama sekali belum pernah hidup dan mengenyam pendidikan di luar negeri. Selain karena membutuhkan penyesuaian dengan tempat baru, tuntutan akademis di kampusku yang sekarang sangat tinggi dibandingkan dengan kampus di mana aku mengenyam pendidikan sarjana. Karena itu, aku benar-benar harus fokus dengan kuliahku ini, supaya bisa making out here alive 😀 Supaya aku tidak gagal di tengah jalan dan bisa pulang dengan gelar masterku. Dengan kata lain, aku harus menginvestasikan banyak waktu sebanyak mungkin untuk belajar dan riset untuk tugas-tugas dan thesis-ku. Untuk sedikit gambaran, untuk bisa lulus satu mata kuliah dengan nilai minimum saja sangat berat: belajar setiap hari pun belum tentu menjamin kamu bisa lulus. Karena itu, banyak bersantai-santai dan belajar hanya beberapa hari sebelum ujian saja sama sekali bukan pilihan.

Sekarang aku sudah di tahap akhir studiku, aku hanya harus menyelesaikan thesis-ku saja karena semua mata kuliahku sudah berakhir. Mungkin, di kesempatan lain akan kuceritakan bagaimana pengalamanku studi dan hidup di sini. Namun sekarang, mumpung ada sedikit waktu luang, aku akan menceritakan sedikit soal kota tempatku tinggal, Groningen.

IMG20170827144338
Rumah kos yang kutinggali di Vinkhuizen, Groningen. Foto ini diambil di hari pertama kedatanganku di sini.

Jika dibandingkan dengan salah satu kota di Indonesia yang kukenal, Groningen mungkin bisa dibandingkan dengan Yogyakarta atau Malang. Groningen bukan kota besar yang hiruk-pikuk, padat dan sibuk, seperti Jakarta, Tokyo, NYC. Ia juga bukan kota yang ramai dan turistik seperti Roma, Denpasar, Amsterdam. Namun ia pun juga bukan kota kecil yang sepi, sempit, di mana setiap orang saling mengenal satu sama lain di kota itu.

Groningen adalah kota student. Menurutku ini sebutan yang pas, karena tanpa universities yang ada, ia hanya benar-benar kota biasa saja tanpa keunikan apapun. Di samping itu, letaknya juga cukup terpisah jauh dari kota-kota besar lainnya di Belanda seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag. Di kota ini terdapat tiga universitas, University of Groningen (RUG), Hanze University of Applied Science, dan Universiteit Medisch Centrum Groningen (UMCG). Ketiga universitas itu menerima mahasiswa internasional. Alhasil, kota ini menjadi vibrant karena populasi anak muda yang tinggi, dan menjadi kota yang cukup majemuk dikarenakan populasi mahasiswa internasional yang mencakup 25 persen dari seluruh mahasiswa di sini. Kamu bisa menemui banyak orang dengan berbagai latar belakang kebangsaan di sini, sekaligus tak akan menemui kesulitan berkomunikasi karena hampir setiap orang bisa berbahasa Inggris. Ini juga didukung fakta bahwa orang Belanda sendiri hampir semuanya bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Ramainya Groningen, berdasarkan pengamatanku, hanya terpusat di city centre saja, di mana pusat pertokoan, pasar, dan universitas berada. Itupun ramai yang sangat normal, bukan ramai hiruk pikuk yang sesak dan bikin pusing. Mayoritas toko tutup pada pukul 6 sore ke atas, maka dari itu, di malam hari keramaian cuma bisa ditemukan area-area tertentu saja di city centre di mana ada banyak pub dan bar, karena di sanalah orang-orang hangout di malam hari.  Di sini tak banyak kantor-kantor besar, selain beberapa kantor pemerintah dan swasta tertentu saja. Di sini pun juga tak ada shopping mall. Toko-toko dan cafe-cafe tersebar di seluruh area city centre dan sekitarnya, dan beberapa biasanya juga ditemukan terpusat di setiap area pemukiman. Kota ini pun bukan kota yang banyak dikunjungi turis. Sementara itu, di area pemukiman warga, suasanya tidak selalu benar-benar sepi, tapi relatif tenang setiap hari.

IMG20170909164239
Salah satu spot di city centre

Karena itu, kota ini sangat cocok untuk pelajar dan mahasiswa, karena tak ada banyak distraksi dan cenderung tak ramai. Namun di saat yang bersamaan, juga banyak tempat-tempat dan aktivitas yang menyediakan hiburan. Toko-toko dan supermarket juga lengkap dan tersebar di seluruh kota. Bagi yang besar dan biasa hidup di kota sibuk dan padat penduduk, kota ini mungkin akan terasa membosankan. Namun bagiku, kota ini sangat nyaman, karena tak ada ‘keluhan-keluhan’ ala kota besar yang seringkali bikin stres warganya. Selain itu suasananya cenderung tenang, namun semua kebutuhan – makan, nongkrong, belanja, hiburan – bisa terpenuhi. Sistem transportasi umum pun baik. Kualitas udara dan air juga sangat baik. Animal welfare juga relatif baik di sini. Menurutku, ini kota yang sangat baik untuk membesarkan anak dan pensiun.

IMG20170828150405
Salah satu spot di city centre (2)
IMG20171118170316
Jepretan random: suasana pusat pertokoan di Herestraat, Groningen di suatu malam

Satu hal lagi yang membuat Groningen istimewa adalah kota ini mengistimewakan sepeda. Selain karena udaranya bagus, kota tidak padat, dan lalu lintasnya jauh dari kata semrawut, jarak tempuh dari satu tempat ke tempat yang lain cenderung tidak jauh, karena city centre, universitas dan pusat perkantoran diposisikan berada persis di tengah-tengah kota. Jadi orang yang tinggal di area manapun akan bisa menempuh jarak rata-rata tidak lebih dari 5 km untuk bisa mencapai tempat-tempat tersebut (walau ada area-area pemukiman tertentu yang cukup jauh dari city centre, jaraknya kurang lebih 7-8km) yang mana ini cenderung bisa ditempuh dengan sepeda. Selain itu, lalu lintasnya sendiri juga sangat ramah sepeda: di mana-mana ada jalur sendiri untuk sepeda, sebagaimana ada jalur sendiri untuk busway di Jakarta. Jadi pengendara sepeda tidak perlu khawatir ditabrak motor, mobil atau bus, kecuali jika ia sendiri yang tidak hati-hati dan tidak taat aturan lalu lintas.

IMG20170829150613
Salah satu jepretan random-ku yang lainnya, saat sedang berjalan kaki

Kesimpulannya, kota ini sangat nyaman, dan aku sangat bersyukur bisa berkesempatan untuk tinggal di sini! Mungkin ini juga yang bikin setahun ini terasa berjalan begitu cepat, kira-kira dua bulan lagi sudah waktunya aku pulang.

Itulah sedikit cerita tentang Groningen, my second hometownI am proud to be able to call it that way 😀 Bagi yang belum pernah, semoga kamu dapat kesempatan untuk berkunjung suatu hari nanti! Semoga aku pun juga, bisa berkunjung kembali ke sini di masa depan.

P.S: Maaf untuk perbendaharaan foto yang hanya sedikit dan kualitasnya yang pas-pasan 😦

IMG20171203144001

 

 

Advertisements

Author: Aulia Nabila

a student of life

One thought on “Groningen, My Second Hometown”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s