Mengapa ‘A Star is Born’ Membuatku Terpukau (Bukan Review Film)

(SPOILER ALERT!)

Kemarin lusa, hari Minggu malam saat sedang mengunjungi kota Surabaya, aku memiliki waktu beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan kereta menuju Malang. Ketimbang menghabiskan waktu untuk berkeliling tidak jelas atau duduk-duduk di kafe sampai mati bosan, kuputuskan untuk ke bioskop dan menonton film. Kebetulan, aku sendirian. Ternyata, ini salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku: menonton A Star is Born, sendirian.

Sebenarnya sudah lama aku ingin nonton film ini, bahkan sejak sebelum film ini ditayangkan di Indonesia. Namun karena satu hal dan hal lainnya, rencana tersebut terus diundur dan makin lama makin pupus. Aku sudah hampir menyerah dan berpikir akan streaming saja. Tetapi alam semesta memberiku kesempatan itu kemarin lusa (sedikit hiperbola won’t hurt you).

Lady Gaga dan Bradley Cooper adalah pemeran utama di film ini. Aku sudah menjadi fans Lady Gaga sejak SMA. Aku selalu kagum padanya, bukan karena gaya berpakaiannya yang eksentrik, tetapi karena bakatnya, artistry-nya, dan passion-nya dalam musik dan performance. Suaranya selalu bergema, tidak pernah crack ketika live performance. Intinya penampilannya tidak pernah mengecewakan. Ketika melihatnya tampil, kita akan langsung tahu bahwa hanya Lady Gaga yang bisa tampil seperti ini. Tak akan ada seniman lain yang bisa menyamainya. Ya, ia lebih dari sekedar penyanyi atau selebriti. Ia seniman. Karena itu, ketika muncul berita bahwa ia akan bermain di film ini, aku tak punya keraguan sedikitpun bahwa ia akan tampil dengan baik.

Sedangkan Bradley Cooper, tidak banyak filmnya yang sudah kutonton. Tapi aku suka aktingnya di Silver Linings Playbook. Dan sudah jelas, karirnya di dunia perfilman diakui. Ia tidak main-main. Karena itu, aku sangat tertarik menonton film ini. Aku penasaran juga bagaimana chemistry antara Gaga dan Cooper akan terlihat di sini.

Kualitas akting tingkat tinggi

Masing-masing tokoh dalam film ini punya kisah yang ingin disampaikan. Film ini sukses menyampaikan itu. Di sini, kerapuhan, kesulitan-kesulitan yang mereka alami, tidak hanya diekspos melalui dialog yang bermakna (namun mudah dicerna), tapi juga melalui ekspresi wajah dan sorot mata mereka. Aku suka bagaimana angle kamera sering diposisikan dekat dengan wajah si tokoh. Dengan begini, ekspresi tidak hanya akan dapat dilihat tapi juga dapat “dirasakan”. Film-film yang menyoroti sisi-sisi humanis karakternya seperti inilah, yang jadi favoritku.

Cooper dan Gaga sangat berhasil menampilkan kerapuhan itu di kamera. Apa yang dialami Jack (Cooper) dan Ally (Gaga), di cerita ini sangat kompleks, mereka telah dihantam berulang-kali oleh hidup. Kurasa, orang yang tidak pernah mengalami hal sedemikian rupa, tak akan bisa menampilkannya, bahkan untuk sekedar membayangkan seperti apa rasanya. Tapi para aktor, terlepas dari apakah mereka pernah mengalami cobaan yang sama beratnya atau tidak, mereka berhasil menampilkan itu di kamera. Mereka berhasil membuat penonton (atau setidaknya aku) bersimpati terhadap mereka dan hancur hatinya karena apa yang mereka harus alami di kisah ini.

Semua ini tentu didukung pula oleh riset dan persiapan yang matang. Gaga, yang seorang musisi, mungkin tidak akan kesulitan memahami dan menampakkan seperti apa kehidupan musisi di atas dan di belakang panggung. Tapi tak demikian dengan Cooper, yang bukan seorang musisi. Cooper, yang juga menulis dan menyutradarai film ini, mempelajari segala hal terkait dunia musik dan kehidupan para musisi (wawancara dengan People TV, 2018). Ia mempelajari semuanya secara mendetil, mulai dari gelagat tipikal para bintang rock, apa yang dilakukan para musisi untuk mempersiapkan penampilan (indoor di dalam studio maupun outdoor) hingga soal penyakit tinnitus yang sering dialami musisi, semua aspek-aspek vital itu ditangkap secara baik oleh Cooper dan ditampilkannya film ini. Dedikasinya layak diberi standing ovation.

Penghargaan juga patut diberikan kepada Sam Elliot, yang memainkan karakter kakak sekaligus manajer Jack. Ia berhasil menampilkan kemuakan sekaligus keikhlasan dan kebijaksanaan seorang manajer musisi yang juga seorang kakak dengan beda umur yang cukup jauh dari adiknya, sehingga harus merawatnya layaknya seorang anak. Chemistry antara Elliot dan Cooper pun patut pula dipuji.

Penampilan musik secara live

Semua adegan-adegan konser di film ini ditampilkan live. Artinya, lagu-lagu yang dinyanyikan tidak direkam terlebih dahulu lalu disatukan dengan scene, tapi penampilan para aktor yang menyanyi secara live di konser-konser itulah yang ditampilkan sebagai scene film. Gaga dan Cooper lagi-lagi berhasil membawakannya dengan ciamik. Kemampuan Gaga dalam menyanyi live jelas sudah tidak diragukan lagi. Saat melihat penampilan-penampilan musiknya di film, aku tahu hanya Gaga yang bisa tampil seperti itu. Ia berhasil menyajikan penampilan khas Gaga yang artistik dan menghanyutkan, dengan tidak menghilangkan kerapuhan dan sentimen ala karakter Ally. Cooper sendiri memang tidak memiliki suara dan karisma ala Freddie Mercury dan Axl Rose, tapi suaranya enak didengar. Sentimen yang dicurahkan melalui ekspresi dan kesuksesannya memerankan seorang penyanyi rock legendaris jugalah yang membuat penampilan live-nya istimewa. Inilah yang membuat A Star is Born menjadi istimewa dan berkualitas, dibanding film-film musikal lain yang biasanya merekam lagu-lagu OST-nya terlebih dahulu ketimbang menyanyikannya live (dengan pengecualian La La Land, karena writing dan editing yang fantastis serta kualitas akting yang ditampilkan oleh pemain).

Isu kesehatan mental para musisi

Selain akting, directing, penulisan dan sinematografi yang menuai pujian, film ini juga patut diapresiasi atas tema kesehatan mental yang diangkatnya. Film ini menampilkan dengan baik masalah penting yang sering dialami musisi dan selebriti ini, namun kurang mendapat perhatian. Film ini menunjukkan bahwa walau selalu terlihat memukau di atas panggung atau di balik layar kaca, bahkan acapkali diagung-agungkan layaknya dewa-dewi, sesungguhnya para musisi juga memiliki sisi yang sangat rapuh, karena mereka hanya manusia biasa seperti kita semua. Banyak dari mereka yang tak cukup kuat menghadapi kerasnya dunia hiburan, sehingga mengalami depresi atau ketagihan mengonsumsi alkohol dan narkoba. Melalui film ini, awareness akan kesehatan mental bisa meluas. Dan semoga saja kita, sebagai fans, bisa lebih memahami kesulitan para musisi dan menghargai mereka sebagai sesama manusia, ketimbang terus-menerus memberi judgement yang sangat subjektif menurut penilaian kita sendiri.

Untuk 10 tahun ke depan, aku tak yakin akan ada film musikal atau film tentang musik yang kualitasnya menyamai A Star is Born. Film ini tak hanya menyuguhkan penampilan-penampilan musik yang bagus, tetapi juga sangat humanis dan mengangkat isu-isu yang vital di dunia hiburan.

Beginilah caraku memaknai A Star is Born. Ternyata, menonton sendirian tidak selamanya garing atau sepi. Film-film drama seperti ini, justru kadang lebih asyik ditonton sendiri, biar lebih baper. Tapi baper yang tidak hanya sekedar baper, tapi baper karena kita fokus menikmati filmnya sehingga makna yang didapat jadi lebih dalam. Uwuwuwuwuu∼

 

image credit: thenational.ae

Advertisements

Author: Aulia Nabila

a student of life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s