Polandia, Destinasi Liburan yang ‘Underrated’ tapi Istimewa

Aku dan teman baikku, Alif Hanan, mendapat kesempatan mengunjungi tiga kota di Polandia pada liburan musim panas bulan Juli lalu. Polandia memang bukan negara yang menjadi destinasi liburan favorit di Eropa, mengingat popularitasnya masih kalah dengan negara-negara Eropa Selatan yang cerah dan eksotis seperti Italia dan Spanyol, dan negara Eropa barat yang menjadi pioneer peradaban negara barat dengan destinasi berkelasnya, seperti Perancis dan Belanda. Namun Polandia, yang terletak di Eropa Tengah, memiliki daya tariknya sendiri di mana sejarah kelam, kisah-kisah kebangkitan, dan arsitektur cantik hadir bersama-sama. Berikut hal-hal berkesan dari kunjunganku ke Polandia, yang masih membekas di ingatanku hingga kini.

1. Krakow dan Auszwitch: anti amnesia sejarah, meski sangat pahit

Polandia diduduki oleh pemerintahan Jerman Naziselama Perang Dunia ke-2 (PD II) berlangsung. Cerita yang mengikuti pendudukan ini amatlah panjang, namun salah satu hal pahit yang terjadi ketika itu ialah Holokaus, di mana Polandia menjadi titik penting bagi yang ingin mempelajari sejarahnya. Orang-orang Yahudi Polandia diburu oleh Nazi Jerman dan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi, di antaranya di Auszwitch dan Birkenau. Di kamp-kamp konsentrasi itu, mereka dipaksa bekerja hingga sakit dan mati, atau segera dibunuh. Keluarga-keluarga dipisahkan. Belum lagi eksperimen-eksperimen ilmiah yang dilakukan terhadap para Yahudi di kamp konsentrasi yang melanggar etika kedokteran.

Kepedihan ini tak membuat Polandia berusaha menutup-nutupinya. Mereka mendokumentasikan dengan baik bagian-bagian penting dari peristiwa itu. Kamp konsentrasi di Auszwitch yang konon menjadi tujuan akhir dalam Holokaus (kamp konsentrasi yang dikenal paling bengis, di mana semua Yahudi pasti berakhir hidupnya di sini), dijadikan museum dan dibuka untuk umum. Ia pun menjadi salah satu destinasi wisata terpopuler di Polandia. Antrean panjang para pengunjung dapat dijumpai dari pagi. Biaya masuknya pun gratis, kecuali jika anda memilih menggunakan fasilitas guided tour yang akan dikenakan biaya.

Di sana ditunjukkan dan dideskripsikan dengan baik setiap bangunan dan alat-alat yang ada, dan apa fungsinya ketika Holokaus berlangsung. Foto-foto yang eksplisit menunjukkan tubuh dan wajah para korban (termasuk anak-anak) juga ditunjukkan.

Bangunan di museum kamp konsentrasi Auszwitch

Polandia, melalui museum di Auszwitch ini, berkata: sepahit apapun masa lalu kami, tak ada alasan untuk menyembunyikannya, karena tanpanya, tak akan ada aku yang sekarang.

Museum kamp konsentrasi Auszwitch ini sendiri terletak di kota Oświęcim, yang dapat dijangkau dengan perjalanan bus sekitar satu jam dari kota Krakow.

Selain museum kamp konsentrasi Auszwitch, jejak-jejak sejarah juga dapat disaksikan dengan baik di kota Krakow. Di sini terdapat The Jewish Quarter, sebuah kawasan di mana para Yahudi Polandia hidup sebelum terjadinya Holokaus. Berdasarkan informasi dari audio guide yang kudengarkan waktu itu (dan yang masih kuingat samar-samar hingga sekarang), para Yahudi tinggal di sana selama beberapa generasi, dan hingga terjadinya Holokaus, jumlah mereka telah mencapai ratusan ribu. Terlihat beberapa sinagog, bangunan rumah-rumah bergaya Yahudi, restoran makanan Ibrani, dan kompleks pemakaman orang Yahudi di sini. Jewish Quarter yang luas ini (aku tidak tahu berapa luas areanya dalam angka, tapi mungkin cukup untuk dibilang seluas rata-rata sebuah kelurahan atau desa di Indonesia) memberikan sentuhan berbeda dari yang semestinya terlihat di sebuah kota di Eropa.

Salah satu fragmen dinding yang ada di Jewish Quarter. Dinding ini menjadi pembatas ghetto dengan daerah lain di luarnya. Konon, bentuknya menyerupai makam Yahudi.

Di kota ini juga terdapat kawasan bekas ghetto Yahudi. Dalam konteks sejarah Holokaus, istilah ghetto biasanya digunakan oleh Nazi Jerman untuk memberi nama kawasan yang merupakan tempat tinggal khusus orang-orang Yahudi. Konon, di sinilah biasanya tahap pertama Holokaus dimulai. Yahudi, yang merupakan kaum minoritas, harus hidup terpisah dari kaum mayoritas pada saat itu. Mereka dilarang keluar dari ghetto kecuali memenuhi kondisi-kondisi tertentu yang dibolehkan, dan itupun sangat langka. Di ghetto ini juga terdapat sebuah area yang seperti lapangan, di mana para Yahudi yang melawan atau melanggar hukum akan didudukkan di kursi-kursi yang sudah ditata dan ditembak mati. Area itu dan kursi-kursinya diabadikan hingga saat ini, dan dijadikan sebuah monumen, yang dinamakan Jewish Ghetto Memorial.

The Jewish Ghetto Memorial

Itulah sedikit cerita tentang bagian pahit sejarah Polandia, yang tidak ditutupi tapi justru dibagi kepada dunia, khususnya turis yang berkunjung, sebab bagian itu merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari jati diri Polandia. Ini jugalah yang menjadi salah satu daya tarik unik Polandia sebagai destinasi liburan dan edukasi, terutama bagi yang berminat untuk liburan sambil belajar sejarah PD II.

2. Warsawa: Raja dua negara, Marie Curie, dan musisi yang dibanggakan

Warsawa, ibukota Polandia, mirip dengan kota-kota besar lainnya di Eropa. Destinasi wisatanya pun begitu, di mana museum, monumen, alun-alun atau taman kota, dan kawasan kota tua (Old Town) selalu masuk di dalam daftar rekomendasi. Aku mendapat kesempatan untuk mengikuti Free Walking Tour dalam bahasa Inggris di sekitar kawasan kota tua Warsawa. Di tur itu, si pemandu menceritakan kisah-kisah di balik berbagai pahatan dan bangunan yang berada di Old Town. Ternyata, walau terlihat seperti pahatan, kastil, atau bangunan rumah biasa, mereka menyimpan banyak cerita menarik!

Salah satu yang cukup berkesan bagiku adalah Sigismund’s Column, monumen patung Raja Sigismund III Vasa, yaitu Raja Polandia tahun 1587-1632. Monumen ini adalah meeting point dari Free Walking Tour kami.

Sayangnya aku tidak sempat mengambil foto monumennya waktu itu…
photo credit: flickr.com

Ada banyak kisah menarik tentang sosok raja yang dijadikan monumen ini. Salah satu fakta yang sangat menarik bagiku tentang raja ini adalah bahwa dia bukan orang asli Polandia. Pria ini lahir dari Raja Swedia dan putri tertua dari Raja Sigismund I Polandia Lama, dan terpilih sebagai raja Polandia melalui sistem yang mirip dengan pemilihan umum yang berlaku pada waktu itu. Karena ibunya orang Polandia dan seorang Katolik, ia juga dibaptis sebagai seorang Katolik, yang mana hal ini cukup asing bagi orang-orang Swedia. Aku belum mempelajari lebih lanjut tentang sejarah Polandia, tapi fakta ini saja sangat menarik bagiku, mengingat negara monarki biasanya tidak mengadakan pemilihan karena raja atau ratu selalu diangkat berdasarkan keturunan. Raja Sigismund III kemudian juga diangkat menjadi Raja Swedia tahun 1594.

Bangunan lain yang ikonik di kota tua Warsawa adalah rumah Marie Skolodowska, atau lebih dikenal dengan Marie Curie, ahli kimia nuklir peraih hadiah Nobel. Curie menghabiskan masa kecil dan gadisnya di Warsawa sebelum ia menikahi Pierre Curie yang berprofesi sama dengannya.

Bekas rumah keluarga Skolodowska, tempat Marie Curie menghabiskan masa kecil dan gadisnya

Berikut foto-foto lainnya di kawasan kota tua Warsawa.

Satu hal lagi yang berkesan bagiku di Warsawa adalah Museum Chopin. Museum ini didedikasikan untuk Frederic Chopin, komposer kelahiran Warsawa yang kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Perancis. Namun ia begitu dibanggakan oleh orang-orang Polandia, sehingga dibangunlah museum ini. Di museum ini terdapat hampir semua hal yang berkaitan dengan Chopin sepanjang hidupnya, mulai dari perabotan-perabotan yang pernah digunakannya, piano, partitur-partitur yang ditulisnya, hingga surat-surat yang pernah ditulisnya selama hidup. Di sini ada juga komputer yang menyediakan kumpulan musik-musik karya Chopin yang dibagi jadi beberapa kelompok seperti preludes, sonata, etudes dan nocturnes. Di antara itu semua, nocturnes adalah karya-karya Chopin favoritku.

Tampak luar bangunan Museum Chopin

Di seluruh museum ini, bisa terdengar alunan piano musik karya Chopin.

3. Wroclaw: negeri para kurcaci dan warna-warni yang memanjakan mata

Di antara tiga part dari liburan ke Polandia ini, Wroclaw adalah bagian yang paling menyenangkan. Atmosfer di kota ini, tidak seperti di Krakow dan Warsawa (apalagi Auszwitch), terasa lebih hidup. Alasan yang pertama, mungkin karena kota ini adalah kota mahasiswa, sehingga populasi anak muda lebih banyak di sini dan memberi kota ini kesan muda dan energik. Alasan yang kedua adalah bangunan-bangunan di pusat kotanya yang berwarna-warni.  Inilah yang bagiku menjadi daya tarik utama. Warna-warni ini memberi kesan hidup dan ceria. Selain itu, pemilihan warnanya tidak norak dan saling cocok berdampingan satu sama lain. Bangunan berwarna-warni ini berlokasi di Wroclaw Market Square atau Wroclaw Rynek, dalam bahasa Polandia.

Wroclaw Rynek
Wroclaw Rynek (2)

Yang ketiga, atmosfer ceria ini ditambah juga dengan patung-patung kurcaci kecil yang dapat ditemukan di berbagai sudut pusat kota, yaitu masih di sekitar Rynek. Kegiatan mencari patung kurcaci ini notabene juga menjadi kegiatan yang seru dan populer bagi para turis, karena ukuran patungnya yang kecil dan letaknya yang tersebar di sudut-sudut tertentu yang tak mudah terlihat. Patung-patung kurcaci yang lucu ini memiliki pose yang berbeda-beda, tergantung tempat di mana ia ditemukan. Misalnya, patung yang ditemukan di depan toko souvenir berpose layaknya seorang turis dengan tas ranselnya. Patung yang berada di depan toko es krim berpose sambil membawa es krim. Patung yang berada di alun-alun kota berpose sambil membawa gitar, seperti para penyanyi jalanan yang sering tampil di sini. Gemas sekali!

Di hari pertama kami di sini, kami ditemani berjalan-jalan oleh Marina, temanku yang orang asli Wroclaw. Marina menceritakan sedikit tentang sejarah kota Wroclaw, dan mengapa ia bisa menjadi warna-warni seperti sekarang. Ternyata, kota Wroclaw ini sempat hancur total saat PD II. Pemerintah setempat dengan didukung warga kemudian membangun lagi kota ini dari awal, hingga menjadi seperti sekarang ini.

Warna-warni ini, ditambah lagi dengan cerahnya matahari musim panas, begitu menyenangkan untuk dilihat! Makanya, di Wroclaw aku paling antusias mengambil foto ketimbang di kota lainnya 😀

Itulah sedikit tentang Polandia yang begitu berkesan dalam ingatanku hingga sekarang. Polandia, setidaknya hingga saat ini, sangat cocok jika kalian ingin berlibur ke Eropa namun ingin menghindari negara atau kota yang sudah terlalu ramai dengan turis. Semoga semua yang membaca tulisan ini bisa berkunjung ke sana suatu hari nanti!

Aku dan Alif di Krakow Square Market

Catatan: Semua foto, kecuali yang diberi credit, merupakan milik penulis.

P.S: All photos, except the ones that are credited, belong to the author.

Advertisements

Author: Aulia Nabila

Wanderer, Questioner, Overthinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s