Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 1

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Syukur kepada Tuhan, aku mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan master di University of Groningen, Belanda pada pertengahan 2017 hingga pertengahan 2018 lalu. Semua itu dimulai dari keinginanku untuk berkarier di bidang akademik, yang mana minimal membutuhkan gelar S2. Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki obsesi tersendiri untuk bisa mengunjungi apalagi hidup di negeri orang. Karenanya, aku sulit membayangkan diriku sendiri, yang dari lahir hingga sebelum berangkat ke Belanda tinggal di rumah yang sama dan tak pernah jauh dari orang tua, harus pergi dan hidup di tempat yang sejauh itu. Namun, aku ingin menantang diriku sendiri: jika ada peluang untuk kuliah di luar negeri, mengapa tidak dicoba? Waktu itu aku berpikir, dengan kuliah di luar negeri, tidak hanya ilmu akademis yang kudapatkan, tapi jauh melebihi itu. Dengan hidup jauh dari zona nyamanku, aku akan bisa belajar tentang hidup dan tentang diriku sendiri, dan ini akan menjadi hal yang sangat berharga dalam hidupku.

Alhasil, perjalanan itupun kumulai tahap demi tahap, tanpa membayangkan terlalu jauh ke depan. Keinginanku hanya sederhana: akan kucoba peluang ini, jika aku tidak berhasil, aku akan mencari pekerjaan lain selain menjadi dosen atau lainnya yang membutuhkan gelar S2.

 

Mencari kampus dan beasiswa

Aku juga termotivasi untuk bisa kuliah di luar negeri karena adanya beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan, walau itu bukan alasan utamanya. Beasiswa ini rupanya populer, notabene karena banyaknya alumni luar negeri yang dibiayai beasiswa ini dan tanggungan penuhnya (biaya kuliah, biaya hidup bulanan, tiket pesawat PP hingga pada waktu itu masih ada tunjangan bagi yang membawa serta keluarganya). Maka upayaku ini kumulai dengan mencari tahu tentang beasiswa LPDP, terutama mengenai cara mendapatkannya dan apa saja yang ditanggung.

Dari situ, aku mengetahui tentang satu dokumen penting yang harus dimiliki pemburu kampus dan beasiswa luar negeri: Letter of Acceptance/Admission (LoA) dari universitas yang dituju. Dokumen ini adalah dokumen sah dari universitas yang menyatakan bahwa kita telah diterima menjadi mahasiswa di universitas tersebut. LoA umumnya terdiri dari dua jenis: unconditional, yang menyatakan kita diterima sepenuhnya di universitas tersebut  dan conditional, yang menyatakan kita diterima di universitas tersebut namun masih ada satu atau lebih syarat yang harus kita penuhi, dan biasanya diberi jangka waktu untuk memenuhi syarat tersebut. Beasiswa LPDP mensyaratkan adanya LoA, dan diutamakan yang unconditional, sebagai salah satu persyaratan administrasi.

Aku pun mencari tahu lebih banyak tentang beasiswa-beasiswa luar negeri lainnya, sekaligus membaca artikel dan blog-blog orang seputar langkah-langkah mempersiapkan diri untuk kuliah di luar negeri. Dari situ aku memahami bahwa penting untuk diterima lebih dahulu di sebuah kampus sebelum mendaftar seleksi beasiswa, karena ketika kita sudah diterima posisi kita sudah lebih jelas sebagai kandidat penerima beasiswa, ketimbang yang belum diterima. Beasiswa lainnya kebanyakan bahkan mengharuskan LoA-nya sudah unconditional. 

Persiapanku kulanjutkan dengan mencari kampus yang akan kulamar. Awalnya aku belum tahu pasti jurusan apa yang kuinginkan dan kampus seperti apa dan di negara mana yang ingin kutuju. Namun, ada hal yang pasti: aku akan melanjutkan kuliah di bidang hukum dan aku tertarik dengan isu-isu kemanusiaan seperti isu gender dan agama. Akhirnya aku mengetahui bahwa aku harus melamar ke kampus yang memiliki jurusan-jurusan yang berkenaan dengan hukum dan hak asasi manusia (HAM). Ada banyak sekali kampus di luar negeri yang memiliki jurusan yang terkait dengan hukum dan HAM, dan aku sempat dilanda kebingungan harus mendaftar ke mana. Pencarian info mengenai jurusan ini pun tak hanya kulakukan dengan mencari di internet, tetapi aku juga datang ke pameran-pameran pendidikan luar negeri yang diadakan di Malang dan Surabaya, serta dengan berkonsultasi ke konsultan-konsultan pendidikan luar negeri.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku mendaftar ke empat universitas: University of Groningen (LLM International Human Rights Law), University of Warwick, Inggris (LLM International Development Law and Human Rights), University of New South Wales, Australia (Master of Human Rights Law and Policy), dan Australian National University (Master of Laws in Law, Governance, and Development). Aku mendaftar di dua universitas Australia itu melalui konsultan di IDP Malang, dan di dua lainnya aku mendaftar sendiri secara online melalui website mereka. Beberapa pertimbanganku dalam memilih universitas-universitas ini adalah adanya jurusan yang kuminati, adanya beasiswa penuh yang bisa menanggung kuliah dan hidupku sekiranya aku diterima di universitas ini, dan besarnya biaya pendaftaran (kuutamakan yang biaya pendaftarannya gratis, walau pada akhirnya aku tidak membayar biaya pendaftaran sama sekali untuk empat universitas ini). Syukurlah, aku diterima di University of Groningen dan University of Warwick. Sementara itu, pendaftaranku di dua universitas di Australia itu pada akhirnya kubatalkan karena mereka belum memberi keputusan hingga pada saat aku memutuskan menerima beasiswa StuNed, yang selanjutnya akan kuceritakan di bawah ini.

Bersamaan  dengan masa-masa di mana aku sedang bingung memilih universitas itu, aku mendapat info soal beasiswa StuNed, yaitu beasiswa untuk orang Indonesia yang melanjutkan pendidikan master di negeri Belanda. Aku jadi sangat tertarik dengan beasiswa ini, karena ia adalah beasiswa penuh dan proses pendaftaran serta persyaratannya cukup sederhana, apalagi jika dibandingkan dengan LPDP. Hal lain yang membedakan dari segi tanggungannya adalah StuNed tidak memberi tunjangan keluarga. Ternyata, pembukaan pendaftaran beasiswa StuNed pada tahun 2017 diadakan lebih dulu ketimbang LPDP. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mendaftar beasiswa ini sebelum mendaftar LPDP, jika aku gagal, barulah aku akan mencoba LPDP. Karena itu pula, aku jadi yakin harus mendaftar di minimal satu universitas di Belanda, karena beasiswa StuNed hanya membiayai studi yang dilakukan di universitas di Belanda. Informasi tentang beasiswa ini bisa kalian temukan di sini.

Lagi-lagi, syukur kepada Tuhan, pada awal bulan Juni 2017 aku mendapat email dari StuNed yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi. StuNed memberi hak untuk memutuskan menerima beasiswa itu atau tidak. Tentu saja aku menerimanya. Yah, cukup unik, karena pada akhirnya aku kuliah tidak dengan beasiswa LPDP, walau awalnya aku menginginkan beasiswa itu, bahkan beasiswa itulah yang menjadi salah satu motivasiku bisa kuliah di luar negeri. Ternyata rejekiku tidak di situ.

Jalanku ke depan pun terbentang dengan sendirinya, bahwa aku akan melanjutkan studi S2-ku di Belanda. Di sinilah perjalananku di negeri stroopwafel itu dimulai.

 

Mempersiapkan bahasa Inggris dan bahasa Belanda

Semua kampus luar negeri membutuhkan hasil tes IELTS atau TOEFL IBT yang ada skor minimalnya, dan syarat minimal itu dapat berbeda-beda tiap kampus, walau rata-rata membutuhkan skor IELTS minimal 6, 6.5, atau 7, dan TOEFL IBT minimal 90 atau 100. Akupun mengambil kursus IELTS di Azet Language Centre, Malang. Lalu aku mengikuti tes IELTS di IALF Surabaya. Di Malang juga ada lembaga yang mengadakan tes IELTS tapi di tanggal yang sudah dijadwalkan untuk tes di Malang bulan itu aku sudah terlanjur ada agenda lainnya, karena itu aku memilih melakukan tes di Surabaya karena ada dua kali tes setiap bulan.

Aku mulai kursus IELTS sekitar bulan November 2016, dan mengikuti tes IELTS pada minggu ketiga bulan Januari 2017. Aku mendapat hasil tesnya kira-kira dua minggu setelah tes, dan syukurlah skorku cukup untuk bisa mendaftar di kampus-kampus yang kutuju. Persiapan IELTS ini kulakukan bersamaan dengan proses mencari kampus-kampus itu. Setelah hasil tesnya keluar, ia langsung kugunakan untuk mendaftar kampus.

Setelah mendapat hasil seleksi StuNed, aku juga mengambil kursus bahasa Belanda. Sebenarnya kemampuan bahasa Belanda tidak wajib dimiliki apabila kamu mengambil kelas internasional di universitas Belanda, karena bahasa pengantar di perkuliahan menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, hampir semua orang Belanda bisa berbahasa Inggris, jadi untuk keperluan komunikasi sehari-hari pun sebenarnya bisa menggunakan bahasa Inggris. Namun, aku tidak ingin datang ke sana dengan kepala kosong sama sekali mengenai bahasa dan budaya Belanda, karena itulah aku memutuskan mengambil kursus. Kursus yang kuambil ini mengajarkan bahasa Belanda dasar, yang digunakan untuk keperluan komunikasi praktis sehari-hari. Aku mengambil kursus di Mayantara School, Malang.

 

Demikianlah hal-hal yang memulai perjalananku ke negeri stroopwafel. Tulisan ini akan kulanjutkan di bagian selanjutnya tentang kehidupanku sebagai mahasiswa di sana.

 

Gambar di atas adalah milik penulis.

Image above belongs to the author.

 

Advertisements

Author: Aulia Nabila

Wanderer, Questioner, Overthinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s