Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 2

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Di bagian pertama tulisan ini sudah kuceritakan bagaimana awal dari perjalananku mengenyam studi master: bagaimana aku diterima di sebuah universitas di Belanda, aku mendapat beasiswa, serta bagaimana persiapan kemampuan bahasaku sebelum mendaftar universitas dan sebelum berangkat. Sekarang aku akan menceritakan bagaimana pengalamanku setelah menginjakkan kaki di kota yang tadinya sangat asing bagiku ini, yang kemudian menjadi kampung halaman keduaku.

Terbang dengan rasa campur aduk

Setelah beberapa minggu mempersiapkan hal-hal teknis: visa, tiket pesawat, berbelanja berbagai keperluan, mengikuti pre-departure briefing, dan packing, tibalah hari di mana aku harus berangkat ke Belanda. Di hari keberangkatan itu, perasaanku begitu campur aduk, antara deg-degan, takut, excited, dan sedih karena harus meninggalkan orang tua, pacar, sahabat-sahabatku, dan rumahku untuk pertama kalinya ke tempat yang sangat jauh. Walaupun hanya satu tahun, aku tidak akan pulang sama sekali, makanya rasanya akan sangat lama sekali. Aku pun tidak akan hanya sekedar berkunjung dan jalan-jalan, tapi aku akan benar-benar tinggal di sana selama satu tahun, di negeri yang asing, yang sama sekali tak terbayang bagiku seperti apa rasanya hidup di sana.

Pagi hari tanggal 26 Agustus 2017, berangkatlah aku dari Malang menuju Jakarta terlebih dahulu dengan pesawat, dan malam harinya langsung terbang menuju Amsterdam. Syukurlah aku mendapatkan direct flight, jadi tidak ada transit, melainkan hanya ada intermediate stop di bandara Changi, Singapura.

Perjalananku pun dimulai. Inilah pertama kalinya aku pergi keluar negeri sendirian. Kurang lebih empat belas jam aku berada di udara. Syukurlah, tidak ada masalah selama perjalanan, selain hidungku yang meler-meler karena pilek. Aku pun sampai di bandara Schiphol, Amsterdam. Untuk ke Groningen, aku harus naik kereta lagi selama tiga jam perjalanan. Untunglah waktu itu aku mendapat dua teman baru yang sama-sama orang Indonesia, jadi aku naik kereta bersama mereka. Keretanya langsung bisa dinaiki di stasiun yang ada di Schiphol.

 

Groningen: kota kecil di belahan dunia lain yang mengajariku tentang hidup

Sesampai di Groningen, aku dijemput oleh “bapak dan ibu kos”-ku, Oom Fred dan Tante Tini. Selama studi di Groningen, aku tinggal di rumah mereka. Mereka menyambutku dengan ramah sekali di hari pertama aku datang, dan selanjutnya, menjadi seperti orangtuaku sendiri.

Tentang Groningen, sudah kuceritakan di tulisanku sebelumnya di blog ini. Namun kali ini aku akan bercerita lebih banyak soal hidupku di sana.

Hari-hari pertamaku dimulai dengan penyesuaian-penyesuaian dan pengurusan hal-hal administratif di kampus. Aku juga menghadiri orientasi dan acara penyambutan mahasiswa baru. Selama itu, aku mendapat teman-teman baru. Hari-hari awal itu dipenuhi rasa ragu, canggung, dan deg-degan. Teman-temanku inilah yang membantuku melalui semua itu dengan baik, hingga di akhir masa studiku.

Hari-hariku sebagai mahasiswa pun dimulai. Aku menghadiri kelas-kelas, mengerjakan tugas, dan belajar. Aku juga bergabung di tim blog jurnal hukum internasional Groningen yang digagas oleh mahasiswa universitasku, sebagaimana sudah kuceritakan juga sebelumnya. Sesekali, aku juga nongkrong dengan teman-teman dan jalan-jalan ke pusat kota untuk refreshing dan membeli kebutuhan-kebutuhan.

Belajar dari mereka

Orang-orang Eropa pada umumnya sangat menghargai privasi. Individualisme yang sering disebut-sebut sebagai ciri khas peradaban Barat pun kurasakan di sana. Sendiri sudah menjadi hal yang biasa. Kamu bisa belanja sendirian, jalan-jalan sendirian, ngopi sendirian, duduk-duduk di taman sendirian, makan sendirian, merokok sendirian, dan orang-orang tidak akan kasihan padamu. Mereka bahkan tidak peduli 😀 Tapi aku justru sangat nyaman dengan hal ini, karena di Malang pun kadang aku juga lebih memilih melakukan banyak hal sendirian. Rasanya seolah kamu bisa melakukan apapun, bertingkah seperti apapun, bisa jadi apapun, tanpa khawatir omongan orang. Kebebasan inilah aspek dari individualisme orang Eropa yang benar-benar kunikmati.

Namun bukan berarti orang benar-benar dingin dan tidak mau membantumu. Ketika kamu kesulitan dan meminta bantuan orang untuk melakukan sesuatu, orang akan membantumu sebisa mereka. Aku pernah jatuh dari sepeda beberapa kali selama di sana dan ketika itu selalu ada orang (lokal) yang menghampiriku dan membantuku berdiri. Kata Tante Tini, dulunya orang Groningen, seperti layaknya orang Eropa kebanyakan, tidak sebaik itu. Ia bilang, mungkin ini pengaruh dari lingkungan internasional di sana, karena banyaknya orang-orang dari berbagai negara yang datang dan tinggal di sana. Merekapun mengenal sifat-sifat ramah dan baik hati orang-orang dari negara lain, makanya mereka pun lama kelamaan menjadi seperti itu juga. Kebaikan dan keramahan orang-orang Groningen itu tak akan pernah kulupakan.

Aspek lain dari budaya Belanda yang cukup kukagumi juga adalah kesetaraan. Hal ini paling kurasakan ketika berinteraksi dengan dosen, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Selain karena kamu tidak perlu memanggil mereka dengan kata sapaan seperti Mr., Mrs., Miss, Pak, Bu dan bahkan boleh memanggil nama depannya saja, kamu tidak perlu merasa sungkan untuk menyampaikan sesuatu, entah itu untuk bertanya soal materi kuliah, janji temu, bahkan mengkritik pandangan mereka, asalkan kamu tetap menunjukkan rasa hormat dan tidak kurang ajar. Mereka juga tidak jaim untuk berinteraksi dengan mahasiswa di suasana informal seperti acara minum dan berkumpul santai yang kadang-kadang diadakan oleh kampus.

Orang Belanda dan orang Eropa pada umumnya (kecuali orang Inggris, mungkin) juga terkenal dengan sifat direct dan tanpa basa-basinya. Ini juga kurasakan ketika berinteraksi dengan teman-teman orang Eropa dan dosen-dosen. Aku pun belajar bahwa terlalu sungkan dan banyak basa-basi bisa menghambat komunikasi dan mempersulit banyak urusan. Sekarang, setelah pulang ke Indonesia pun aku berusaha membiasakan diri untuk berbicara to the point dalam segala hal dan dengan siapapun sambil tetap sopan dan menunjukkan rasa hormat, dan terbukti bahwa orang-orang pun tidak masalah dengan hal itu.

Belajar dari sudut-sudut kota

Satu hal utama yang sangat berbeda dengan hidup di Indonesia yang kurasakan selama di sana adalah kemandirian. Meski kamu sudah termasuk orang yang cukup mandiri di Indonesia, di sini level kemandirian itu lebih tinggi lagi. Hal ini kutemui di berbagai hal-hal sederhana, seperti ketika berbelanja di supermarket. Kamu harus memasukkan sendiri barang-barangmu ke tas belanja, karena pekerjaan kasir hanyalah memindai barang-barang yang kamu beli lalu menerima uangmu.

Hal lain yang membutuhkan kemandirian adalah soal bepergian. Di Indonesia, kamu bisa dengan mudah pergi ke manapun tanpa lelah, dengan baik kendaraan pribadi, nebeng teman atau pacar, maupun ojek online. Di Groningen, aku harus mengendarai sepeda pancal ke mana-mana, atau mengendarai bus, atau berjalan kaki jika jaraknya tidak lebih dari 3 km. Mau naik taksi sebenarnya bisa, tapi kamu akan malu sendiri, karena selain tarif taksi mahal, orang di sana hanya naik taksi atau mobil hanya kalau sangat perlu saja. Sehari-hari, hampir semua orang naik sepeda atau bus. Tapi sepeda tetap menjadi transportasi utama. Orang Groningen naik sepeda bahkan ketika hari hujan atau bersalju sekalipun. Anak-anak umur tiga tahun pun sudah bisa naik sepeda tanpa roda latihan. Karena itu di Groningen kamu akan menemui sepeda diparkir di mana-mana, hampir di setiap sudut jalan. Toko dan tempat reparasi sepeda juga lebih banyak dari bengkel atau tempat cuci mobil.

Di hari-hari pertamaku, aku merasa cukup sengsara, karena selain aku tidak biasa mengendarai sepeda, aku juga buruk dalam hal arah-arah, meskipun sudah memakai Google Maps, sehingga aku sering tersasar ke mana-mana. Di hari-hari pertama itu aku bolak-balik menabrak saat mengendarai sepeda (untungnya bukan orang), dan ada saat-saat di mana aku menyerah dan akhirnya berjalan sambil menuntun sepedaku. Bahkan aku beberapa kali tersasar ketika naik bus, karena aku menaiki bus yang salah. Aku paling sedih ketika tersasar seperti itu, karena kota ini terasa sangat asing sekali. Di hari-hari itu aku sering pulang dalam keadaan ngos-ngosan, karena selain capek menggenjot sepeda, aku juga lelah secara psikologis. Awal aku berada di sana, aku selalu pulang dari rumah ke kampus dalam waktu 30 menit karena aku menempuh jalan memutar, padahal sebenarnya jarak rumah-kampusku bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit dengan sepeda. Sekarang, semua itu kukenang sambil tersenyum.

Belajar untuk bangkit

Tantangan terberat yang kurasakan ketika di sana adalah tuntutan akademis di kampus. Aku tidak pernah memiliki banyak masalah dalam penyesuaian gaya hidup dan budaya, namun dalam hal akademik inilah kesulitannya sangat terasa bagiku. Di blok pertama perkuliahan, aku tidak lulus semua mata kuliah, sehingga harus menjalani ujian ulang yang semacam ujian remedial. Aku juga sempat kesulitan dalam mengerjakan tugas dan menyesuaikan diri dengan budaya diskusi kelompok di sana. Di awal-awal kuliah itu, aku biasanya hanya mendapat sedikit di atas nilai minimal dari tugas-tugasku.

Di saat-saat seperti itu, aku sempat merasa sangat down dan meragukan kemampuanku sendiri. Ada saat-saat di mana aku sangat sedih dan murung sendirian. Untungnya, aku bisa curhat dengan orang tua dan pacarku melalui telepon, dan curhat dengan teman-temanku di sana juga. Akhirnya aku belajar untuk bangkit lagi dari momen-momen terendahku itu.

Aku perlahan-lahan terus menyesuaikan diri, menjalani hari demi hari dengan segala suka dukanya, dan mulai terbiasa. Akhirnya aku belajar bahwa ini bukan semata-mata karena aku begitu payah, seperti yang selalu kupikirkan sebelumnya, tapi karena aku butuh waktu untuk penyesuaian. Akhirnya aku bisa melalui itu semua dan lama kelamaan menikmati kesibukan harianku. Semua itu juga berkat dukungan teman-teman di sana (yang juga merasakan hal yang sama), dosen-dosen dan staf yang baik dan suportif, serta orang-orang tersayangku dari jauh. Tante Tini dan Oom Fred juga sangat baik padaku. Mereka banyak membantuku dan selalu mendukungku, jadi berkat mereka jugalah aku bisa terus bersemangat belajar dan kuat menjalani kehidupan rantau itu.

Aku tak menyangka, kota kecil yang flat (secara geografis :D) dan tak begitu punya hal menarik di dalamnya itu telah memberiku banyak pelajaran berharga tentang hidup. Lama kelamaan kota yang asing itu pun terasa seperti rumah sendiri. Aku mulai hapal setiap sudutnya dan bentuk-bentuk bangunannya. Aku mulai terbiasa berjalan kaki, bersepeda, serta menaiki bus untuk bepergian ke sana ke mari. Groningen pun menjadi bab tersendiri dalam cerita hidupku.

 

Meninggalkan lagi kenyamanan yang belum lama datang 

Tanpa terasa, aku sudah menghabiskan hampir setahun di sana. Studiku dan urusan-urusan lainnya sudah kuselesaikan. Aku pun kembali ke momen-momen penuh perasaan campur aduk itu. Aku senang bisa pulang kembali ke Malang, ke rumahku, tapi pun aku merasa seperti akan meninggalkan rumahku yang lain juga. Kesedihan datang sedikit-sedikit ketika aku mengemas barang-barang dan membereskan kamarku. Di hari-hari mendekati kepulanganku, aku mengambil foto-foto sudut-sudut Groningen untuk kujadikan kenang-kenangan. Berikut beberapa foto tersebut.*

 

 

Namun yang terpenting, aku pulang dengan penuh rasa syukur dan tanpa penyesalan. Pergi ke Groningen untuk mengambil studi master adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil. Aku merasa bangga dengan diriku sendiri, karena bisa melewati tahun yang penuh jatuh bangun itu dengan baik. Aku bersyukur, tak hanya karena aku bisa menginjakkan kaki di benua Eropa, tapi juga karena aku mendapat banyak sekali pelajaran dalam hidup dalam perantauan itu, dan yang terpenting: aku lebih mengenal diriku sendiri. Aku juga bersyukur telah bertemu dengan banyak orang, yang mana banyak dari mereka sekarang bisa kusebut dengan bangga sebagai teman-teman dan keluargaku.

Satu tahun berlalu begitu saja di depan mata. Tanpa kusadari, aku sudah kembali lagi ke Malang. Di sinilah aku sekarang, menuliskan semua ini dengan komputer laptop-ku, kembali di meja belajarku yang lama, di kamarku yang lama, di rumahku yang lama. Apakah kiranya yang menantiku selanjutnya?

 

*Semua gambar adalah milik penulis. All images belong to the author.

Advertisements

Author: Aulia Nabila

Wanderer, Questioner, Overthinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s