My Self-healing Journey

Beberapa tahun terakhir ini aku cukup sering mengalami gejolak emosi, baik yang sumbernya murni dari diriku sendiri (misalnya diam-diam overthink masa lalu atau masa depanku) atau yang berasal dari faktor eksternal, seperti kejadian-kejadian yang kualami, perkataan orang lain, dan dari tuntutan studi serta pekerjaan. Aku menyadari bahwa sifatku sendiri turut berkontribusi dalam hal ini: aku orang yang lebih banyak berpikir ketimbang bicara atau bertindak. Aku juga punya kecenderungan menetapkan ‘standar-standar’ ideal atas hal-hal dalam hidupku, sehingga ketika ‘standar’ itu tidak tercapai, aku overthink dan kadang cemas berlebihan, berusaha mencari apa/siapa yang salah, mengapa harus begini, mengapa harus begitu. Jadi, ketika orang-orang bisa fokus untuk bersenang-senang, bekerja, dan melakukan kegiatan lainnya tanpa rasa khawatir apapun, seringnya aku justru fokus untuk merasa khawatir dan akhirnya overthinking sampai kadang aku kelelahan sendiri karena tak dapat kuhentikan.

Continue reading “My Self-healing Journey”

Advertisements

Akankah Kita Baik-baik Saja Tanpa Media Arus Utama?

Mereka bilang bahwa beberapa bulan terakhir dan dua bulan dari sekarang adalah momen-momen terpenting bagi Indonesia, mengingat bahwa pemilihan umum akan dilaksanakan pada 17 April tahun ini. Media arus utama Indonesia, baik elektronik maupun cetak, semuanya didominasi oleh pemberitaan soal politik, pejabat negara, para politisi, dan apapun serta siapapun yang berkaitan dengan mereka.

Continue reading “Akankah Kita Baik-baik Saja Tanpa Media Arus Utama?”

Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 2

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Di bagian pertama tulisan ini sudah kuceritakan bagaimana awal dari perjalananku mengenyam studi master: bagaimana aku diterima di sebuah universitas di Belanda, aku mendapat beasiswa, serta bagaimana persiapan kemampuan bahasaku sebelum mendaftar universitas dan sebelum berangkat. Sekarang aku akan menceritakan bagaimana pengalamanku setelah menginjakkan kaki di kota yang tadinya sangat asing bagiku ini, yang kemudian menjadi kampung halaman keduaku.

Continue reading “Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 2”

Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 1

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Syukur kepada Tuhan, aku mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan master di University of Groningen, Belanda pada pertengahan 2017 hingga pertengahan 2018 lalu. Semua itu dimulai dari keinginanku untuk berkarier di bidang akademik, yang mana minimal membutuhkan gelar S2. Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki obsesi tersendiri untuk bisa mengunjungi apalagi hidup di negeri orang. Karenanya, aku sulit membayangkan diriku sendiri, yang dari lahir hingga sebelum berangkat ke Belanda tinggal di rumah yang sama dan tak pernah jauh dari orang tua, harus pergi dan hidup di tempat yang sejauh itu. Namun, aku ingin menantang diriku sendiri: jika ada peluang untuk kuliah di luar negeri, mengapa tidak dicoba? Waktu itu aku berpikir, dengan kuliah di luar negeri, tidak hanya ilmu akademis yang kudapatkan, tapi jauh melebihi itu. Dengan hidup jauh dari zona nyamanku, aku akan bisa belajar tentang hidup dan tentang diriku sendiri, dan ini akan menjadi hal yang sangat berharga dalam hidupku.

Alhasil, perjalanan itupun kumulai tahap demi tahap, tanpa membayangkan terlalu jauh ke depan. Keinginanku hanya sederhana: akan kucoba peluang ini, jika aku tidak berhasil, aku akan mencari pekerjaan lain selain menjadi dosen atau lainnya yang membutuhkan gelar S2.

Continue reading “Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 1”

Polandia, Destinasi Liburan yang ‘Underrated’ tapi Istimewa

Aku dan teman baikku, Alif Hanan, mendapat kesempatan mengunjungi tiga kota di Polandia pada liburan musim panas bulan Juli lalu. Polandia memang bukan negara yang menjadi destinasi liburan favorit di Eropa, mengingat popularitasnya masih kalah dengan negara-negara Eropa Selatan yang cerah dan eksotis seperti Italia dan Spanyol, dan negara Eropa barat yang menjadi pioneer peradaban negara barat dengan destinasi berkelasnya, seperti Perancis dan Belanda. Namun Polandia, yang terletak di Eropa Tengah, memiliki daya tariknya sendiri di mana sejarah kelam, kisah-kisah kebangkitan, dan arsitektur cantik hadir bersama-sama. Berikut hal-hal berkesan dari kunjunganku ke Polandia, yang masih membekas di ingatanku hingga kini.

Continue reading “Polandia, Destinasi Liburan yang ‘Underrated’ tapi Istimewa”

Harry Potter, Impian Masa Kecil, dan Kecintaan pada Dunia Fiksi

Jika ada yang bertanya padaku seperti ini, “Jika tak ada yang tak mungkin di dunia ini, kamu mau jadi apa?”

akan kujawab,

“Penyihir!”

Continue reading “Harry Potter, Impian Masa Kecil, dan Kecintaan pada Dunia Fiksi”

Mengapa ‘A Star is Born’ Membuatku Terpukau (Bukan Review Film)

(SPOILER ALERT!)

Kemarin lusa, hari Minggu malam saat sedang mengunjungi kota Surabaya, aku memiliki waktu beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan kereta menuju Malang. Ketimbang menghabiskan waktu untuk berkeliling tidak jelas atau duduk-duduk di kafe sampai mati bosan, kuputuskan untuk ke bioskop dan menonton film. Kebetulan, aku sendirian. Ternyata, ini salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku: menonton A Star is Born, sendirian.

Continue reading “Mengapa ‘A Star is Born’ Membuatku Terpukau (Bukan Review Film)”