Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 2

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Di bagian pertama tulisan ini sudah kuceritakan bagaimana awal dari perjalananku mengenyam studi master: bagaimana aku diterima di sebuah universitas di Belanda, aku mendapat beasiswa, serta bagaimana persiapan kemampuan bahasaku sebelum mendaftar universitas dan sebelum berangkat. Sekarang aku akan menceritakan bagaimana pengalamanku setelah menginjakkan kaki di kota yang tadinya sangat asing bagiku ini, yang kemudian menjadi kampung halaman keduaku.

Continue reading “Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 2”

Advertisements

Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 1

Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalamanku belajar di (dan dari) negeri orang. Tujuanku bukan memberikan tips atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa belajar di luar negeri, tapi ini semua murni untuk membagi pengalaman pribadiku. Jika bisa bermanfaat untuk kalian, tentu aku bersyukur.

Syukur kepada Tuhan, aku mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan master di University of Groningen, Belanda pada pertengahan 2017 hingga pertengahan 2018 lalu. Semua itu dimulai dari keinginanku untuk berkarier di bidang akademik, yang mana minimal membutuhkan gelar S2. Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki obsesi tersendiri untuk bisa mengunjungi apalagi hidup di negeri orang. Karenanya, aku sulit membayangkan diriku sendiri, yang dari lahir hingga sebelum berangkat ke Belanda tinggal di rumah yang sama dan tak pernah jauh dari orang tua, harus pergi dan hidup di tempat yang sejauh itu. Namun, aku ingin menantang diriku sendiri: jika ada peluang untuk kuliah di luar negeri, mengapa tidak dicoba? Waktu itu aku berpikir, dengan kuliah di luar negeri, tidak hanya ilmu akademis yang kudapatkan, tapi jauh melebihi itu. Dengan hidup jauh dari zona nyamanku, aku akan bisa belajar tentang hidup dan tentang diriku sendiri, dan ini akan menjadi hal yang sangat berharga dalam hidupku.

Alhasil, perjalanan itupun kumulai tahap demi tahap, tanpa membayangkan terlalu jauh ke depan. Keinginanku hanya sederhana: akan kucoba peluang ini, jika aku tidak berhasil, aku akan mencari pekerjaan lain selain menjadi dosen atau lainnya yang membutuhkan gelar S2.

Continue reading “Belajar di (dan dari) Negeri Orang: Bagian 1”

Polandia, Destinasi Liburan yang ‘Underrated’ tapi Istimewa

Aku dan teman baikku, Alif Hanan, mendapat kesempatan mengunjungi tiga kota di Polandia pada liburan musim panas bulan Juli lalu. Polandia memang bukan negara yang menjadi destinasi liburan favorit di Eropa, mengingat popularitasnya masih kalah dengan negara-negara Eropa Selatan yang cerah dan eksotis seperti Italia dan Spanyol, dan negara Eropa barat yang menjadi pioneer peradaban negara barat dengan destinasi berkelasnya, seperti Perancis dan Belanda. Namun Polandia, yang terletak di Eropa Tengah, memiliki daya tariknya sendiri di mana sejarah kelam, kisah-kisah kebangkitan, dan arsitektur cantik hadir bersama-sama. Berikut hal-hal berkesan dari kunjunganku ke Polandia, yang masih membekas di ingatanku hingga kini.

Continue reading “Polandia, Destinasi Liburan yang ‘Underrated’ tapi Istimewa”

Harry Potter, Impian Masa Kecil, dan Kecintaan pada Dunia Fiksi

Jika ada yang bertanya padaku seperti ini, “Jika tak ada yang tak mungkin di dunia ini, kamu mau jadi apa?”

akan kujawab,

“Penyihir!”

Continue reading “Harry Potter, Impian Masa Kecil, dan Kecintaan pada Dunia Fiksi”

Mengapa ‘A Star is Born’ Membuatku Terpukau (Bukan Review Film)

(SPOILER ALERT!)

Kemarin lusa, hari Minggu malam saat sedang mengunjungi kota Surabaya, aku memiliki waktu beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan kereta menuju Malang. Ketimbang menghabiskan waktu untuk berkeliling tidak jelas atau duduk-duduk di kafe sampai mati bosan, kuputuskan untuk ke bioskop dan menonton film. Kebetulan, aku sendirian. Ternyata, ini salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku: menonton A Star is Born, sendirian.

Continue reading “Mengapa ‘A Star is Born’ Membuatku Terpukau (Bukan Review Film)”

Groningen, My Second Hometown

Apa kabar?

Kabarku sendiri baik, walau sedang sedikit pilek ketika sedang menulis post ini. Tak apa, pilek bukan sesuatu yang tak lazim bagiku. Orang-orang yang mengenalku akan tahu soal ini.

Anyway, bagi yang pernah menemukan blog ini sebelumnya, kalian akan tahu bahwa sudah berbulan-bulan lamanya blog ini terabaikan. Akan kuungkapkan sekarang apa alasannya.

Alasan pertama, karena aku kurang bisa mengatur waktu dan konsisten 😦 Cukup sulit bagiku untuk menyediakan waktu secara rutin untuk bisa mengurus blog ini dengan baik. Aku bukan tipe orang yang baik dalam multi-tasking, sehingga aku cenderung menghindari untuk memiliki banyak pekerjaan. Dengan kata lain, aku lebih memilih bermalas-malasan, bersantai, atau jalan-jalan ketika selesai dengan satu kesibukan yang melelahkan, daripada mengerjakan pekerjaan lain 😀 Ya, bagiku blogging bukan sekadar hobi atau sarana refreshing, karena ia membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Alasan kedua, mungkin sudah sedikit kubocorkan di alasan yang pertama: aku sekarang memiliki kesibukan baru. Apakah itu?

Continue reading “Groningen, My Second Hometown”

Tentang Pernikahan

Ini adalah pernikahan dari sudut pandang seorang perempuan berusia 23 tahun yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang besar dan rumit ini. Jadi, tidak perlu dianggap serius.

Ada satu fenomena yang sering kujumpai akhir-akhir ini. Aku makin sering mendapat kabar bahwa teman seangkatan atau teman dari teman, atau yang aku tidak kenal sama sekali tapi seumuran denganku (bahkan lebih muda), menikah. Kemudian, obrolan-obrolan baik santai maupun serius di antara teman-temanku banyak membahas tentang pernikahan, baik itu menggosipkan seseorang yang akan atau sudah menikah, atau saling meledek karena di antara kami banyak yang masih lajang, dan saling dorong-mendorong supaya segera menikah. Di pertemuan-pertemuan keluarga dan teman-teman orang tuaku, aku dan orangtuaku sudah digoda-goda dengan bercandaan seputar ‘kapan mantu‘.

Ini bukan hal buruk sih, karena aku bisa ikuti dan tanggapi itu semua dengan santai. Cuma yang membuatku sedikit muak adalah pembahasan tentang pernikahan akhir-akhir ini menjadi sangat overrated di kalangan orang-orang seusiaku. Continue reading “Tentang Pernikahan”